SEJARAH SINGKAT PERGURUAN AL-KHAIRIYAH
Oleh : Drs. H. Abidin Nawawi
"Al-Khairiyah" adalah lembaga pendidikan Islam (Madrasah). Madrasah ini dikelola oleh sebuah yayasan, bernama "Yayasan Waqfiyah Perguruan Al-Khairiyah". Lembaga pendidikan ini mulai berdiri sejak zaman penjajah Belanda, yaitu pada tahun 1928 M. Pertama kali berdiri di jalan Buncit III (Jalan Mampang Prapatan VI), kelurahan Tegalparang dan pada tahun 1968 ada yang berlokasi di jalan Buncit I (Mampang Prapatan IV) Kelurahan Mampang Prapatan, yaitu sejak berdirinya Madrasah Tsanawiyah.
Para pendiri lembaga pendidikan Islam ini antara lain ialah:
1. K. H. Ishaq Musa
2. K. H. Abdul Hadi Musa
3. K. H. Abdullah Musa
Pertama kali berdiri "Al-Khairiyah" merupakan tempat pengajian Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama Islam yang dikelola oleh K.H. Ishaq Musa, K.H. Abdul Hadi Musa, dan K.H. Abdullah Musa. Ketiga orang bersaudara inilah sebagai perintis berdirinya Perguruan Al-Khairiyah. Dari ketiga orang ini yang pertama kali yang mempelopori dan merintis lembaga pendidikan Al-Khairiyah dari tempat pengajian Al-Qur'an menjadi sekolah atau madrasah adalah K.H. Abdul Hadi Musa, sehingga terkenal pada waktu itu di daerah Mampang Prapatan bahwa sebutan terhadap Madrasah Al-Khairiyah adalah Madrasah Haji Adi (Sekolaan Adi).
Setelah Madrasah ini diakui keberadaannya oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1928 M, mulailah diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab, antara lain:
1. Ilmu Fiqih
2. Aqidah (Ilmu Tauhid)
3. Membaca Al-Qur'an
4. Ilmu Tajwid dan lain-lain.
Pada tahun pertama kali didirkan, madrasah ini belum mempunyai tingkatan kelas, baru pada tahun kedua mulai ada kelas I dan II. Dari sejak awal di Madrasah Al-Khairiyah pelajaran agama Islam sangat mendalam, sehingga lulusan Madrasah Ibtidaiyah mampu mendirikan dan memimpin sebuah madrasah. Hal ini patut kita banggakan.
Tahun berikutnya, yaitu tahun ketiga mulai dipelajari ilmu pengetahuan umum, tetapi masih menggunakan teks bahasa Arab. Dari tahun ke tahun Madrasah Al-Khairiyah mengalami perkem-bangan, terutama setelah masyarakat Mampang mulai mendukung keberadaan madrasah ini dan juga masyarakat sudah mulai mem-butuhkan terhadap lembaga pendidikan ini, sehingga pada tahun 1934 M Madrasah Al-Khairiyah mempunyai murid sebanyak 600 orang. Sesuai dengan tuntutan zaman, di Madrasah Al-Khairiyah akhirnya mulai mempelajari huruf latin, hal ini hanya sekedar untuk bisa membaca.
Pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, situasi dan kondisi politik sangat memprihatinkan, terutama keadaan ekonomi Indonesia yang masih morat-marit akibat penjajahan Jepang, maka keadaan di Madrasah Al-Khairiyah sementara ditutup tidak ada kegiatan apa-apa.
Setahun kemudian setelah keadaan Negara mulai agak aman, Madrasah Al-Khairiyah mulai aktif kembali, dan sejak itu pula diadakan perbaikan-perbaikan di sana-sini, yaitu dengan menyempurnakan pelajaran agama dan pengetahuan umum. Selain itu juga diadakan perbaikan gedung madrasah terutama setelah ada bantuan dari bapak Haji Musa dan kepercayaan dari masyarakat yang makin lama makin bertambah besar.
Masyarakat sangat percaya dan bangga pada Madrasah Al-Khairiyah, karena banyak tamatan Al-Khairiyah yang terpakai di masyarakat dan mampu mengajar serta mampu juga mendirikan lembaga-lembaga pendidkan Islam di lain tempat. Begitu juga di Madrasah Al-Khairiyah para tamatan itu kembali mengajar di Al-Khairiyah. Di antara para tamatan yang ikut mengabdikan dirinya di Madrasah Al-Khairiyah, antara lain K.H. Bunyamin Musa, H. Rahmatullah, H. Abdul Aziz Ahmad, H. Muhammad Nuh Tabrani, H. Ahmad Siraj, dan lain-lain.
Hal lain yang menyebabkan lembaga pendidikan Islam ini makin berkembang, adalah karena berkat para tokoh pendiri madrasah ini, terutama K.H. Abdullah Musa yang tidak kenal lelah dan sungguh-sungguh serta berpikiran moderat, selalu mengikuti perkembangan zaman. Sebagai contoh sewaktu pemerintah mempunyai program Madrasah Wajib Belajar (MWB), Madrasah Al-Khairiyah mendukung dan melaksanakan program ini serta men-jadikan madrasah ini Madrasah Wajib Belajar.
Untuk memperluas dan menjawab tantangan zaman serta memenuhi kebutuhan masyarakat akan lembaga pendidikan agama yang lebih tinggi, maka pada tahun 1968 M. K.H. Abdullah Musa setelah berkali-kali mengadakan musyawah dengan para guru dan para ustadz serta tokoh masyarakat, di antaranya H. Muhammad Nuh Tabrani, H. Muhammad Soheh Usman, K. H. Bunyamin Musa, H. Zaenal Bakri dan lain-lain mulai mendirikan Madrasah Tsanawiyah. Dalam musyawarah untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah ini, tidak sekaligus direstui oleh peserta musyawarah, tetapi terjadi silang pendapat, hal ini karena takut keberadaan Madrasah Tsanawiyah itu nanti tidak mulus pertumbuhan dan perkembangan-nya.
Rapat itu kadang-kadang diadakan di rumah kediaman K.H. Abdullah Musa, kadang-kadang di rumah H. Muhammad Nuh Tabrani dan yang paling sering adalah di rumah H. Zaenal Bakri salah satu tokoh yang ekonominya pada waktu itu sudah mapan, karena mempunyai usaha konveksi yang cukup berkembang.
Berdirinya Madrasah Tsanawiyah ini adalah untuk menam-pung lulusan Ibtidaiyah Al-Khairiyah yang tidak meneruskan ke lain tempat. Usaha ini ternyata disambut baik oleh masyarakat serta didukung oleh dewan guru ibtidaiyah. Murid pertama tingkat Tsanawiyah sebanyak 31 orang.
Sebagai kepala Madrasa Tsanawiyah dipegang oleh K.H. Abdullah Musa, merangkap kepala Madrasah Ibtidaiyah dan Ketua Umum Yayasan Waqfiyah Perguruan Al-Khairiyah. Yang ikut membantu mengajar pelajaran agama dan bahasa Arab di awal berdirinya Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah ini, antara lain: K.H. Bunyamin Musa, H. Muhammad Nuh Tabrani, H. Muhmmad Soheh Usman, K.H. Abdul Halim Husin, K.H. Hasan Azhari, K.H. Muhtar Ramli, H. Alwi Asmat, serta K.H. Abdullah Musa sendiri. Sedangkan yang mengajar pelajaran umum antara lain bapak Subilal, Moh. Syah, Ali Rahim, Ahmad Royani, Ir. M. Thoyib, Ahmad Solelaiman, BA, Ahmad Fahmi, Zikro Abdullah Musa, dan lain-lain.
Yang mengajar di Madrasah Al-Khairiyah adalah sebagian lulusan Perguruan Tinggi Al-Azhar Mesir, lulusan Mu'alimin Jam'an Tanah Tinggi Jakarta Pusat, lulusan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, lulusan PGAAN dan juga tamatan dari Perguruan Al-Khairiyah itu sendiri yang telah mempunyai Ijazah Guru Agama yaitu setelah mengikuti Ujian Guru Agama (UGA).
Pada tahun 1971 Departemen Agama memberi bantuan guru lulusan Sarjana Muda Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, yaitu Abdurrahman, BA, M.E. Aly Murtadlo, BA, dan Abidin Nawawi, BA.
K.H. Abdullah Musa dalam mengelola lembaga pendidikan Islam tidak puas dengan hanya memiliki madrasah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah saja, beliau berkeinginan dan bercita-cita untuk mendirikan madrasah tingkat Aliyah, cita-citanya terwujud pada tahun 1975, dan kebetulan pada waktu itu ada bantuan pembangunan satu unit gedung madrasah dari Pemda DKI Jakarta, sewaktu gubernur bapak Ali Sadikin. Dalam mengurus permohonan bantuan gedung ini, K.H. Abdullah Musa dibantu oleh bapak H. Zaenal Bakri, Fikri Abdullah Musa dan beberapa orang guru.
Madrasah Aliyah Al-Khairiyah didirikan pada tahun 1975 oleh K.H. Abdullah Musa, K.H. Bunyamin Musa serta Dewan Guru Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Ibtidaiyah.
Adapun tenaga pengajarnya sebagian besar dirangkap oleh guru-guru yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah. Di antaranya ialah:
1. K. H. Abdullah Musa
2. K. H. Bunyamin Musa
3. K. H. Abdul Halim Husin
4. H. Moh. Soheh Usman
5. Ahmad Soelaiman, BA
6. Muhammad Syah
7. Subilal
8. Drs. M.E. Ali Murtadlo
9. Drs. Abidin Nawawi
10. Abdurrahman, BA
11. Marullah Jailani
12. Zikro Abdullah Musa
13. Sanwani Tohir (sebagai Tata Usaha).
Murid perdananya sebanyak 13 orang, 7 orang laki-laki dan 6 orang perempuan, semuanya adalah lulusan (tamatan) Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah. Dari 13 yang bisa meneruskan sampai kelas III ada 12 orang, dari 12 orang itu 50 % berhasil melanjutkan ke Perguruan Tinggi, bahkan ada yang diterima di IKIP Jakarta untuk jurusan bahasa Arab dan yang lainnya ada juga yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi As-Syafiiyah dan Aththahiriyah.
Mulai Tahun Ajaran 1975/1976 Departemen Agama dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan status madrasah, baik untuk tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah diwajibkan untuk mengikuti dan melaksanakan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri (SKB 3 Menteri) yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Adanya SKB 3 Menteri itu adalah pengakuan pemerintah RI terhadap madrasah yang dikelola oleh Departemen Agama disamakan dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya untuk tingkat MI disamakan dengan SD, untuk MTs disamakan dengan SMP, dan untuk tingkat Aliyah disamakan dengan SMA.
Pada tahun 1977 Ketua Umum Yayasan Waqfiyah Perguruan Al-Khairiyah, K.H. Abdullah Musa, karena kesibukannya di bidang da'wah dan politik, beliau melepas jabatan Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah yang seterusnya mengangkat dan mengukuhkan 8 orang untuk menjadi kepala madrasah dan wakilnya, yaitu:
1. K. H. Abdul Aziz Ahmad, sebagai Kepala MI Putra
2. Ahmad Fahmi Bunyamin, sebagai Wakil Kepala MI Putra
3. Alwi Asmat, sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah Putri
4. Ahmad Fathi Bunyamin, BA sebagai wakil Kepala MI Putri
5. Abdurrahman, BA sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah
6. Ahmad Soelaiman, BA sebagai wakil Kepala MTs.
7. Drs. Abidin Nawawi, sebagai Kepala Madrasah Aliyah
8. Drs. M.E. Aly Murtadlo sebagai wakil Kepala Madrasah Aliyah
Belum sempat dikukuhkan dan diberi Surat Keputusan Yayasan Waqfiyah Perguruan Al-Khairiyah, bapak Abdurrahman, BA meninggal dunia, dengan sebab itu maka penggantinya diangkat Ahmad Soelaiman, BA dan sebagai wakilnya adalah Ny. Zikro AM.
Yang mendorong kepada K.H. Abdullah Musa untuk menunjuk 4 orang sebagai kepala madrasah dan 4 orang sebagai wakilnya, karena beliau di samping sibuk di masyarakat, beliau juga ingin membenahi dan merapihkan administrasi madrasah. Di samping itu juga, karena ada peraturan pemerintah, bahwa Ketua Yayasan tidak diperkenankan merangkap sebagai kepala madrasah.
Dengan adanya pelimpahan kepala madrasah dari Ketua Umum Yayasan Waqfiyah Perguruan Al-Khairiyah, maka para kepala madrasah dan wakilnya serta dibantu oleh Dewan Guru dari masing-masing tingkatan, mulailah membenahi dan merapihkan Adminis-trasi Sekolah.
Melihat perkembangan Perguruan Al-Khairiyah makin meningkat dan makin dipercaya oleh masyarakat, maka Departemen Agama menambah bantuannya berupa guru agama baik lulusan PGAAN, maupun lulusan IKIP Jakarta atau lulusan Perguruan Tinggi swasta. Di samping itu Ketua Yayasan membuka pintu bagi guru-guru yang ingin mengabdikan dirinya di Perguruan Al-Khairiyah dengan tidak melihat dari mana asalnya (suku bangsanya) serta aliran agamanya tetapi dilihat kemampuan dan loyalitasnya terhadap Perguruan Al-Khairiyah. Dengan sebab itu pula maka Perguruan Al-Kahiriyah makin lama makin berkembang dengan baik, sehingga muridnya dari tiga tingkatan mencapai 1500 orang.
Tenaga pengajar di tingkat Aliyah terutama untuk mata pelajaran umum, khususnya pelajaran eksak masih belum mencukupi, apalagi setelah Madrasah Aliyah membuka dua jurusan IPA dan IPS. Dengan sebab itu pula maka mulai tahun 1978 Kepala Madrasah Aliyah Al-Khairiyah mencari tenaga-tenaga pengajar untuk pelajaran tersebut, dan alhamdulillah berhasil meskipun belum sesuai dengan yang diinginkan, karena kebanyakan dari mereka bukan dari pendidikan keguruan. Di antaranya ialah:
1. Jamaluddin Abdul Fatah, lulusan Akuntansi mengajar Tata Buku dan Hitung Dagang, kemudian diganti oleh Burhanuddin H. Asmat, dan ia juga tidak lama mengajar di MA Al-Khairiyah.
2. M. Kosasih, BE, dari Fakultas Teknik Muhamadiyah mengajar matematika
3. Ariantara, dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengajar Ekonomi dan Kooprasi
4. Zainal Muttaqin, dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengajar Bahasa Indonesia.
5. Abdul Hadi Jamal, dari Fakultas Teknik Muhamadiyah mengajar Kimia.
6. Irman, dari Fakultas Teknik Muhammadiyah mengajar Fisika
7. Lukman Hakim, dari Fakultas Teknik Muhammadiyah mengajar Biologi.
8. Indah Tri Setiawati, dari Akademi Senitari Yogyakarta, mengajar Kesenian.
9. Suhud Setiawan mengajar Kesenian.
Pada tahun 1984, bapak Drs. M.E. Aly Murtadlo sebagai wakil kepala Madrasah Aliyah mutasi ke SMA 28 Oktober, untuk mengisi kekosongan wakil kepala, maka Kepala Madrasah Aliyah Al-Khairiyah menunjuk bapak Drs. Ichsan Usman untuk menjadi wakilnya. Sejak itulah maka bapak Drs. Ichsan Usman resmi menjadi wakil kepala Madrasah Aliyah Al-Khairiyah.
Pada Tahun Pelajaran 1994/1995, ada perubahan wakil kepala sekolah, ada wakil bidang kurikulum dan wakil bidang kesiswaan.
Wakil Bidang Kurikulum dipegang oleh Drs. Haris Makhri dan Wakil Bidang Kesiswaan dipegang oleh Drs. A. Syauqi HJ. Hal ini terjadi sampai menjelang akriditasi tahun 2000, mulai tahun ini wakil kepala sekolah ditambah dengan bidang Hubungan Masyarakat (Humas). Wakil Bidang Humas dipegang oleh K.H. Ahmad Kazruny Ishak, MA.
Para lulusan Perguruan Al-Khairiyah:
1. Dari tingkat Ibtidaiyah di samping banyak yang melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah atau ke Tsanawiyah Negeri dan swasta lain, bahkan ada juga yang diterima di SLTP baik negeri maupun swasta.
2. Dari tingkat Tsanawiaya di samping melanjutkan ke Madrasah Aliyah Al-Khairiyah, banyak juga yang melanjutkan baik ke Madrasah Aliyah Negeri maupun swasta serta banyak yang diterima di SLTA negeri dan swasta dan yang terbanyak adalah yang melanjutkan ke sekolah kejuruan seperti SMEA (SMK).
3. Lulusan Madrasah Aliyah banyak yang melanjutkan ke IAIN, IKIP, IPB dan Perguruan Tinggi swasta lainnya baik perguruan tinggi agama maupun umum.
Setelah lulus dari IAIN, IKIP atau Perguruan Tinggi lainnya banyak yang kembali ke Al-Khairiyah untuk membantu dan mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar atau sebagai tenaga administrasi madrasah.
Usaha K. H. Abdullah Musa seta saudara-saudaranya, seperti K.H. Ishaq Musa, K.H. Bunyamin Musa, K. H. Abdul Hadi Musa dan lain-lain, untuk meningkatkan dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam, khususnya Perguruan Al-Khairiyah putra-putrinya disekolahkan di sekolah keguruan, seperti PGA, IKIP, IAIN, bahkan ada yang dikirim ke luar negeri, yaitu ke Al-Azhar Mesir.
Setelah tamat hamper semua keluarganya menjadi tenaga pengajar dan tenaga administrasi serta ikut mengembangkan Perguruan Al-Khairiyah.
Berkat kerjasama yang baik antar keluarga, dewan guru, para tokoh agama, para dermawan, para alumni dan masyarakat baik yang intelek maupun yang awam berdirilah gedung yang megah bertingkat tiga.
Semoga kemegahan gedung ini diikuti dengan mutu yang lebih baik. Amin.
Perkembangan Murid :
1. Tahun pertama dibuka yaitu Tahun Ajaran 1975/ 1976, jumlah murid 13 orang, laki-laki 7 orang dan perempuan 6 orang.
2. Tahun kedua 1976/1977, yang masuk 12 orang
3. Tahun ketiga 1977/1978, yang masuk 16 orang.
4. Tahun keempat 1978/1979, yang masuk19 orang
5. Tahun kelima 1979/1980, yang masuk 34 orang
6. Tahun keenam 1980/1981, yang masuk 69 orang
7. Tahun ketujuh 1981/1982, yang masuk 49 orang
8. Tahun kedelapan 1982/1983, yang masuk 48 orang
9. Tahun kesembilan 1983/1984, yang masuk 51 orang
10. Tahun kesepuluh 1984/1985, yang masuk 48 orang
11. Tahun kesebelas 1985/1986, yang masuk 98 orang
12. Tahun kedua belas 1986/1987, yang masuk 90 orag
13. Tahun ketiga belas 1987/1988, yang masuk104 orag
14. Tahun ketempat belas 1988/1989, masuk109 orang
15. Tahun kelima belas 1989/1990 = 140 orang
16. Tahun keenam belas 1990/1991 = 82 orang
17. Tahun ketujuh belas 1991/1992 = 92 orang
18. Tahun kedelapan belas 1992/1993 = 84 orang
19. Tahun kesembilan belas 1993/1994 = 97 orang
20. Tahun kedua puluh 1994/1995 = 71 orang
21. Tahun kedua puluh satu 1995/1996 = 71 orang
22. Tahun kedua puluh dua 1996/1997 = 80 orang
23. Tahun kedua puluh tiga 1997/1998 = 75 orang
24. Tahun kedua puluh empat 1998/1999 = 84 orang
25. Tahun kedua puluh lima 1999/2000 = 66 orang
26. Tahun kedua puluh enam 2000/2001 = 116 orang
27. Tahun kedua puluh tujuh 2001/2002 = 93 orang
28. Tahun kedua puluh delapan 2002/2003 = 100 orang
29. Tahun kedua puluh sembilan 2003/2004 = 96 orang
30. Tahun ketiga puluh 2004/2005 = 66 orang
31. Tahun ketiga puluh satu 2005/2006 = 72 orang
32. Tahun ketiga puluh dua 2006/2007 = 86 orang
33. Tahun ketiga puluh tiga 2007/2008 = 87 orang, tetapi yang ikut ujian nasional dan ujian sekolah 81 orang, program IPA = 41 orang, dan program IPS = 40 orang.
34. Tahun ketiga puluh empat 2008/2009 = 93 orang
35. Tahun ketiga puluh lima 2009/2010 = 84 orang
Kurikulum yang pertama kali dipakai adalah kurikulum Tahun 1975, yang kebetulan termasuk Kurikulum SKB 3 Menteri. Kurikulum tahun 1975 bagi madrasah pelajaran umum 70 % dan pelajaran agama 30 %.
Pada tahun 1975 Madrasah Aliyah Al-Khairiyah baru membuka satu jurusan, yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan tahun keempat sudah membuka 2 jurusan yaitu, IPS dan IPA. Tahun kelima hanya membuka jurusan IPS saja, hal ini disebabkan kesusahan untuk mencari tenaga pengajar di samping minat anak tidak banyak yang memilih IPA.
Tahun Pelajaran 1984/1985 MA Al-Khairiyah, mulai membuka jurusan Agama di samping Ilmu Pengetahuan Sosial, hal ini berlanjut sampai perubahan Kurikulum, yaitu Kurikulum 1994. Bagi jurusan agama dari MA Al-Khairiyah banyak yang melanjutkan ke IAIN di Ciputat, begitu juga sebagian kecil dari jurusan IPS.
Sejak menggunakan Kurikulum Tahun 1994, MA Al-Khairiyah membuka Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sejak membuka jurusan IPA, maka mulai itu juga lulusannya MA Al-Khairiyah ada yang masuk Perguruan Tinggi Negeri, yaitu masuk Institut Pertanian Bogor (IPB). Tahun keduanya masuk lagi melalui jalur PMDK sebanyak satu orang, begitu tiap tahun ke IPB masuk satu orang melalui jalur PMDK dan Tahun 2006/2007 masuk IPB melalui jalur PMDK ada dua orang dan PMDK ke UIN masuk 6 orang.
Alumni MA Al-Khairiyah, baik Lulusan IAIN, IPB dan UIN Jakarta, maupun lulusan Perguruan Tinggi Swasta banyak yang mengabdi (menjadi guru) di MA Al-Khairiyah.
Demikianlah sekilas tentang MA Al-Khairiyah Mampang Prapatan Jakarta Selatan. |